Thursday, January 29, 2026

Sopan Santun

‎Pemberontakan terhadap keadilan dilarang keras, di kantor. Maka kami melakukannya dengan sopan.
‎Kami datang mengisi absen bekerja sesuai jobdesk tidak kurang dan tidak lebih. Karena disini kelebihan dianggap salah.
‎Kami menjawab "siap" di grub WhatsApp. Lalu melanjutkan pekerjaan tanpa bertanya mengapa.
‎Bukan karena paham,
‎tapi karena bertanya sering dianggap sikap tidak loyal.
‎Atasan kami menyukai kata keluarga. Katanya, kantor ini rumah kedua. Sayangnya, di rumah ini kami tak boleh berbeda pendapat, tak boleh lelah, dan tak boleh sakit kecuali dengan surat dokter.
‎Kami punya banyak ide.
‎Sebagian besar disimpan rapi di kepala, seperti arsip lama yang tak pernah dibuka lagi. 
‎Pengalaman mengajarkan satu hal penting:
‎"ide tanpa jabatan hanyalah opini,
‎dan opini bisa mengganggu stabilitas."
‎Maka kami memilih aman. Kami bekerja cukup, tidak menonjol, tidak mengeluh, tidak berharap. Karena berharap terlalu tinggi hanya akan membuat kecewa yang lebih mahal.
‎Jika suatu hari produktivitas menurun, mereka akan menyalahkan: "generasi sekarang malas", "kurang kerja keras", "tidak tahan banting".
‎Tidak pernah terpikir bahwa mungkin
‎yang habis bukan tenaga, melainkan rasa memiliki.
‎Beginilah bentuk pemberontakan kami:
‎tidak merusak, tidak berisik, tidak heroik.
‎Kami patuh.
‎Kami diam.
‎Kami tetap bekerja.
Share:

Sunday, January 18, 2026

Sunyi yang Tidak Tercatat

Dwi, datang paling pagi tapi namanya jarang disebut. Di absensi pegawai sekolah, daftar guru dan pegawai tetap dicetak tebal. Namanya ada di bawah, huruf lebih kecil, di bagian tenaga honorer seolah hanya catatan kaki yang bisa dihapus kapan saja.

Ia membuka perpustakaan saat embun masih menempel di kaca jendela. Bau buku lama menyambutnya, seperti bau sajadah di masjid kampungnya. Rak-rak ia rapikan pelan-pelan. Ia terbiasa bekerja tanpa suara, tanpa saksi.

“kalem-kalem ae,” gumamnya.

Sebagai honorer, Dwi belajar satu hal sejak awal: jangan banyak menuntut, jangan banyak bicara, dan jangan terlihat bermasalah.

Siang hari itu seorang guru masuk dengan wajah tegang.

“Pak Dwi, buku referensi Bahasa Inggris ilang,” kata guru itu.

Dwi berdiri cepat.
“Inggih bu, kulo cek riyen. Niki buku nopo?” tanya Dwi.

“Yang kemarin saya pakai. Harusnya ada di sini.”

Dwi mencari di rak, membuka buku peminjaman, memeriksa catatan. Bukunya tidak ada. Dadanya menghangat oleh perasaan yang sudah sering datang belakangan ini.

“Mboten wonten catetanipun, Bu,” ucapnya hati-hati.

“Kinten-kinten dipun pinjam tanpa ngisi.”
Guru itu menghela napas panjang.

“Lho terus gimana, Pak? Ini kan tanggung jawab perpustakaan.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi tepat. Dwi mengangguk. Selalu begitu. Jika buku hilang, ia lalai. Jika siswa ribut, ia tak tegas. Jika administrasi kacau, ia yang kurang teliti.
Sore itu, namanya kembali dipanggil ke ruang kepala sekolah.

Ruang itu dingin oleh pendingin udara dan sunyi oleh formalitas. Kepala sekolah membaca selembar kertas tanpa menatap wajah Dwi.

“Pak Dwi, ini sudah beberapa kali,” katanya akhirnya.
“Masalahnya kecil-kecil, tapi sering.”

Dwi berdiri dengan tangan terlipat di depan perut. Posisi yang sama seperti saat ia menghadap pengurus masjid jika ada laporan pengeras suara mati.

“Nggih, Pak. Kulo nyuwun pangapunten,” katanya lirih.

“Bukan soal minta maaf,” lanjut kepala sekolah.
“Ini soal tanggung jawab.”

Di sudut ruangan, beberapa guru duduk. Tidak ada yang berbicara. Ada yang sibuk membuka ponsel, ada yang pura-pura membaca berkas. Tak satu pun menoleh lama ke arahnya.
Surat teguran disodorkan. Dwi membacanya sebentar, lalu menandatangani. Tangannya sedikit gemetar.

“Saya harap ini yang terakhir,” kata kepala sekolah.

“Iya, Pak,” jawab Dwi. Selalu itu jawabannya.

Malam hari, Dwi berada di masjid. Ia menyapu lantai dengan gerakan teratur. Satu saf, dua saf, hingga selesai. Masjid kosong. Lampu putih menggantung tanpa suara.
Ia duduk di saf paling belakang, menatap sajadah yang mulai berbulu. Di sini, ia tak pernah ditegur. Tak pernah dituduh. Tapi juga tak pernah benar-benar didengar.

“Gusti,” bisiknya.
“Menopo sabar niki tansah dados dalan sing bener?"

Ia terdiam. Tak ada jawaban. Hanya dengung kipas angin dan suara langkah jamaah terakhir yang pulang.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Dwi tetap datang pagi. Tetap menyusun buku. Tetap tersenyum saat disapa setengah hati.
Suatu siang, dua siswa berlari di dalam perpustakaan. Salah satu rak terguncang. Buku jatuh berserakan.

“Le, ojo mlayu,” kata Dwi lembut.

Salah satu siswa menoleh sekilas.
“Iya, Pak,” jawabnya asal, lalu pergi.

Sore harinya, laporan kembali masuk. Rak berantakan. Buku rusak. Nama Dwi kembali disebut.
Teguran ketiga datang tidak lama setelah itu. Isinya lebih tegas. Nada ancamannya tidak disembunyikan.

Malam itu, Dwi pulang lebih awal dari biasanya. Seragamnya digantung rapi. Ia duduk di tepi ranjang, menatap dinding kosong.
Ia teringat perkataan seorang temannya dulu.

“Dwi, wong apik kuwi kerep dadi korban. Dudu merga salah, tapi merga meneng.”

Waktu itu ia tertawa. Sekarang kalimat itu tinggal dan berputar-putar di kepalanya.

Subuh datang. Dwi membuka masjid seperti biasa. Menata sandal. Menyalakan lampu. Menyapu halaman.
Setelah azan, ia duduk di beranda masjid.
Matahari pelan-pelan naik. Jalan di depan mulai ramai oleh orang-orang yang tahu ke mana mereka akan pergi.
Untuk pertama kalinya, Dwi tidak langsung berangkat ke sekolah.

Ia duduk saja. Diam. Tangannya di atas lutut. Dadanya terasa penuh, tapi bukan oleh marah—lebih seperti lelah yang sudah terlalu lama ditahan.

“Yen meneng terus,” gumamnya pelan,
“opo aku isih ana?”

Ia tidak menjawab pertanyaan itu. Tidak hari ini.
Masjid tetap berdiri. Perpustakaan akan tetap buka, dengan atau tanpa dirinya. Dunia berjalan seperti biasa.
Dwi menarik napas panjang.

Cerita ini tidak berakhir dengan keberanian besar. Tidak ada teriakan. Tidak ada pembelaan.
Hanya seorang lelaki baik yang akhirnya menyadari:
kesabaran yang tak pernah didengar bisa berubah menjadi cara paling halus untuk menghilangkan diri sendiri.
Pagi itu, ia masih duduk di sana, memilih atau menunda memilih untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Share:

Tuesday, January 6, 2026

Kenangan yang Kita Hidupkan Sendiri

Kenangan merupakan jejak yang tertinggal yang diam dalam kepala. Ia bersembunyi tanpa nama menunggu sesuatu yang kecil untuk membangunkannya.

Aku sering bilang pada diriku sendiri, aku hanya mengingat. Ternyata yang ku lakukan sebenarnya adalah menghidupkan ulang.

Aku memanggil lagi kenangan itu pelan-pelan. Tidak semua, hanya yang terasa paling akrab dengan luka.

Aku mengingatnya di kepalaku, memberinya wajah, nada suara, dan perasaan yang sama seperti dulu. Seolah jika kuingat cukup sering, ia akan tetap tinggal dan tidak benar-benar pergi.
Aku tidak tahu kapan tepatnya kenangan itu berhenti menjadi masa lalu.
‎Yang aku tahu, ia mulai ikut hidup bersamaku hari ini.

Tanpa kusadari, aku membawanya ke mana-mana.
‎Saat sendiri, saat lelah, saat merasa sulit memahami diriku sendiri.
‎Kenangan itu selalu muncul, dan anehnya, aku merasa betah berada di sana. Seolah mengingatnya memberi rasa yang lebih akrab daripada menjalani hari ini.

Dalam kenangan, aku tidak perlu menebak-nebak.
‎Aku tahu di mana aku terluka.
‎Aku tahu mengapa aku kecewa.
‎Aku tahu mengapa aku pantas merasa seperti ini.

Berbeda dengan sekarang. Hidup hari ini terlalu sunyi, terlalu terbuka. Tidak ada penjelasan yang rapi, tidak ada siapa yang bisa benar-benar kusalahkan. Hanya aku dan perasaan yang harus kuurus sendiri.
‎Mungkin itu sebabnya aku sering kembali. Bukan karena kenangan itu indah, tapi karena ia memberi batas yang jelas. Ia memberiku alasan yang tidak perlu dijelaskan, rasa yang tidak perlu dibenarkan.

Aku mulai menyadari, kenangan bukan sekadar ingatan. Ia adalah tempat singgah. Tempat aku berhenti sejenak dari tuntutan untuk mengerti segalanya.

Aku tidak memelihara kenangan itu karena aku ingin tersakiti.
‎Aku memeliharanya karena aku belum siap melepaskan penjelasan tentang diriku sendiri. Selama kenangan itu hidup, aku masih tahu siapa aku dan mengapa aku seperti ini.

‎Namun semakin sering kuhidupkan, semakin ia mengambil ruang.
‎Hari ini terasa mengecil, masa lalu terasa lebih nyata.

Dan tanpa kusadari, aku lebih sering hidup di sana daripada di sini. ‎Aku belum tahu bagaimana caranya berhenti. Tapi kini aku mengerti satu hal:
‎"kenangan itu tidak menahanku, akulah yang terus memanggilnya untuk tinggal.
Mungkin suatu hari nanti aku akan membiarkannya diam. Bukan karena aku lupa, tapi karena aku akhirnya berani hidup tanpa menjadikannya sandaran."
Share:

Monday, January 5, 2026

Mengulang Marah sebagai Pembenaran

‎Setelah luka itu tak kunjung pergi, aku belajar satu hal yang lebih sulit: marah, aku kembali marah.
‎Bukan karena ada hal baru yang menyakitkan, tapi karena ada sesuatu dalam hatiku yang membiarkanya tumbuh.

Aku mengulang peristiwa yang sama di kepalaku, seolah jika ku ingat lagi aku menemukan alasan yang kuat untuk tetap bertahan pada perasaan yang sama. ‎Aku mengulang marah itu untuk menyembunyikan rasa takut bukan ketakutan untuk kehilangan, tapi ketakutan untuk melepaskan.

Marah yang ku rasa tak lagi keras. Ia terasa tenang bahkan bisa dibilang sopan. Tanpa suara, duduk disudut pikiranku, dan mengingatkanku pada hal-hal yang sudah lama berlalu tapi belum kulepaskan. Aku membiarkannya ada, karena selama ia ada, aku tidak perlu benar-benar jujur pada diriku sendiri.

Selama aku marah, aku tidak harus menurunkan ego. Tidak harus mengakui bahwa mungkin sebagian luka ini bertahan karena aku memeliharanya. Marah menjadi pembenaran yang rapi tanpa perlu teriak, tanpa perlu pembelaan.

Aku mulai menyadari yang paling kutakutkan bukan luka itu sendiri, tapi  jika aku berhenti marah, aku harus hidup tanpa cerita tentang siapa yang salah dan siapa yang benar.
‎Aku pernah berpikir marah membuatku kuat. Sekarang aku tahu, ia hanya membuatku bertahan tanpa benar-benar hidup.

Setiap kali aku mengulangnya, damai terasa semakin jauh. Bukan karena damai tidak mau datang, tapi karena aku tidak memberi tempat. Hatiku sudah penuh oleh pembenaran.
‎Mungkin pada akhirnya, marah bukan sesuatu yang harus dilawan. Ia hanya harus tidak lagi dipelihara.

‎Dan ketika aku mulai membiarkannya diam sunyi yang tersisa terasa asing, ‎tapi untuk pertama kalinya, tidak menyakitkan.
Share:

Sunday, January 4, 2026

Luka yang Tidak Pergi

‎Aku selalu berfikir luka yang kita alami pasti akan sembuh sendiri dan akan pergi sendiri. Bahkan aku selalu yakin suatu hari ia akan menghilang seiring berjalannya waktu. Tetapi, nyatanya tidak.

Luka tidak pergi, kalaupun pergi bukan karena waktu. tapi ia pergi karena kita berhenti memeliharanya.

Ada luka yang tidak lagi terasa sakit tapi tetap tinggal. Ia tinggal bukan sebagai perih melainkan sebagai sikap. ‎Nada bicara yang berubah-ubah,
‎kecurigaan kecil yang muncul tanpa alasan jelas, rasa ketidakpercayaan pada hal yang sebenarnya aman.

‎Aku sadar luka itu tidak pergi karena aku terus membawanya kemana-mana. Aku mengingatnya bukan untuk memahami, tapi untuk memastikan aku tidak lupa siapa yang bersalah. Aku mengulangnya bukan karena belum sembuh, tapi karena aku takut jika sembuh, aku kehilangan alasan untuk marah.

Dan sejak kapan, luka itu menjadi identitas. Aku adalah orang yang pernah disakiti. Aku adalah orang yang pantas dimengerti. Aku adalah orang yang tidak seharusnya diminta mengalah. Aku adalah orang yang tidak seharusnya gagal. Aku adalah orang yang harus mendapatkan apa yang ku ingingkan. Dari situlah luka berhenti menjadi pengalaman, dan berubah menjadi rumah.

Ada bagian dari diriku yang merasa aman dengan luka itu. Karena selama ia ada, aku tidak perlu benar-benar membuka diri. Selama ia ada, aku punya alasan untuk menjaga jarak. Selama ia ada, aku bisa berkata dalam hati: “Wajar aku seperti ini.”

Padahal mungkin luka itu sudah lama sembuh, dan yang belum selesai hanyalah keinginanku untuk tetap benar.
‎Aku sering bilang pada diri sendiri bahwa aku belum sembuh karena orang lain belum meminta maaf.
‎Karena keadaan belum adil.
‎Karena ceritanya belum lengkap.
‎Padahal kalau jujur, yang belum selesai adalah keberanianku untuk melepaskan egoku.

‎Aku sadar luka ini tidak pergi bukan karena ia kuat, Ia bertahan karena aku terus memberinya tempat. Dan pelan-pelan aku mengerti satu hal yang tidak nyaman: selama aku masih menggenggam luka itu, aku tidak sedang bertahan aku sedang menunda damai.

Mungkin menyembuhkan luka bukan soal menghapus apa yang terjadi. Mungkin ia tentang berhenti menjadikannya pusat hidup. Membiarkannya menjadi bagian dari cerita, bukan judulnya. Karena tidak semua yang tinggal ingin disembuhkan. Sebagian hanya ingin dilepaskan.
Share:

Saturday, January 3, 2026

Karena luka tak akan pernah selesai kalau kita tak bisa menahan ego

Kadang yang membuat luka kita bertahan bukan karena peristiwa menyakitkan masih terjadi, tapi karena kita terus membiarkannya hidup dalam hati dan pikiran kita. Kita ulang marahnya, kecewanya, perih-perihnya seakan-akan dengan itu kita merasa benar. Padahal sering kali yang memperpanjang rasa sakit bukan orang lain tapi ego kita sendiri.

Sering kali kita ingin membuktikan seakan-akan kita adalah orang yang paling tersakiti. Menuntut pengakuan, pembelaan orang lain, atau bahkan balas dendam. Kita lupa semakin kita bicara semakin dalam luka yang menganga. Kita tak bisa benar-benar jujur dan mengakui bahwa "persepsi kita salah" dan tak bisa benar-benar sembuh, karena kita terlalu sibuk menunjuk siapa yang salah daripada merawat diri kita.

Luka tak akan pernah selesai selama kita belum mampu menurunkan ego. Untuk menyembuhkan luka yang kita perlukan bukan pembenaran tapi penerimaan, bukan balasan tapi keikhlasan. Menahan berarti kalah itu adalah cara paling bijak untuk memberi ruang pada hati agar pulih, bagi jiwa agar tenang.

Karena pada akhirnya, damai bukan datang dari kemenangan atas orang lain tapi dari keberanian berdamai atas diri sendiri.

Share:

Surat Perpustakaan

- Dunia Martha

Cahaya langit sore menyusup jendela perpustakaan MAN Kota Blitar, membias diantara rak-rak kayu tua yang penuh buku. Di pojok ruangan duduk seorang siswi dengan jilbab putih dengan wajah tenang menunduk membaca halaman novel yang sudah menguning. Martha. Siswi itu bernama Martha seorang yang lebih suka menghabiskan harinya duduk menyendiri membaca buku sambil menunggu jemputan pulang sekolah. Tak ada yang tahu berapa lama Martha bisa betah di perpustakaan. Ia bisa duduk berjam-jam di sana, hanya ditemani suara detik jam dinding dan aroma khas buku tua. Di perpustakaan Ia merasa aman, jauh dari hiruk pikuk kelas, tekanan nilai, dan dari percakapan basa-basi yang membuatnya asing. Hari itu ia memilih buku yang lama tak disentuh berjudul:

“Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Darmono”.

Terselip sebuah kertas lipat berwarna hijau pada sela-sela buku. Saat membuka buku itu terdapat sebuah kutipan

“aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu - 1989”.

Lalu ia membaca tulisan pada kertas itu ditulis rapi bertinta biru bertandatangan:

“Kau yang selalu duduk di pojok ruangan ini. Aku tidak pernah berani menyapamu. Tapi, aku selalu menunggumu membuka halaman demi halaman seolah aku ikut membaca bersamamu.”

Martha menahan nafas. Surat Anonim, hanya ditandai dengan satu huruf dipojok bawah: “D”

Ia menatap sekeliling, tak ada orang sama sekali. Dalam hati dia berkata “Siapa yang menulis surat ini?, Untuk siapa? Untukku kah?, Apakah ini surat cinta?....”

-Surat Misterius

Sepulang sekolah Ia tak berhenti memikirkan surat itu. Ia membawanya pulang disimpannya dalam halaman bindernya. Menurutnya, ada yang berbeda dari surat itu selain kata-katanya yang indah, ada kejujuran yang jarang ia temui dalam hari-harinya. Besoknya, Ia kembali ke perpustakaan untuk mengambil buku yang sama dengan maksud mencari apakah ada surat yang lain. Tapi ia tak menemukan surat apapun. Martha mulai penasaran dan memeriksa buku absen tamu perpustakaan. Ada beberapa nama, tapi ada satu nama yang mencolok yaitu: “Dana Adyaksa”.

Dana, Siswa samping kelasnya. Berkacamata biasa menyendiri dan pendiam, nyaris tak pernah bicara kecuali jika ditanya. Ia sering terlihat membawa buku, dan beberapa kali ia sering terlihat di perpustakaan duduk diam, seperti sedang menunggu sesuatu.

Ia tak berani langsung bertanya. Tapi sejak saat itu, ia mulai memperhatikan Dana. Dan Dana sesekali juga mulai bersenyum sapa walau terlihat ia sedikit malu. Walau singkat, senyum, anggukan kepala. Bahkan satu kali Dana pernah bertanya 

“Buku Sapardi bagus ya?...” Ia hanya bisa membalas dengan anggukan.

Dalam hati berkata “kok Dana tau aku buku sapardi itu?”

ia juga bertanya-tanya: Apakah dia tahu aku surat yang menyelip di buku itu?

Atau Dana yang jangan-jangan menyelipkan buku itu?

-Rasa Penasaran dan Surat Kedua

Beberapa hari kemudian, Martha menemukan surat kedua. Kali ini terselip pada buku paket pelajaran matematika yang tampak tak menarik perhatian. surat itu bertuliskan

“Aku menunggumu hari ini, kamu tidak datang. Aku tetap menatap bangku itu, barangkali rinduku bisa tertinggal di sana.”

Martha heran menggigit bibirnya. Surat ini jelas ditulis oleh orang yang sama seperti surat pertama yang diperolehnya kemarin lengkap dengan tandatangan dan inisial D. Surat ini jelas ditulis oleh orang yang sedang menunggu, menyimpan perasaan. Tapi tak berani mengungkapkan.

“Apakah Dana yang menulis?” kata Martha dalam hati.

Martha mencari surat lain barangkali ada. Ia membaca setiap buku yang pernah dipinjam atas nama Dana. Dan benar dua surat lain ia temukan dalam minggu yang sama. Semuanya memakai gaya bahasa yang serupa. Puitis, hangat, sederhana, dan semuanya ada tandatangan dengan inisial D.

Martha mulai yakin bahwa Dana yang menulisnya.

Tapi mengapa ia hanya tak pernah menyapa lebih dari sekedar “Buku itu bagus?...”,

dan mengapa memilih untuk tetap menyembunyikan perasaan dibalik tulisan-tulisan anonim?

-Perasaan yang Mengendap

Martha mulai mengalami perubahan dalam dirinya. Tak hanya membaca buku sekarang ia lebih sering membaca gerak-gerik Dana. Setiap kali Dana masuk ke perpustakaan pandangannya akan tertuju padanya dan jantungnya akan berdetak lebih cepat. Tapi ia menyadari bahwa Dana tak mungkin berani mendekatinya dan tak pernah berani duduk disampingnya.

Suatu sore, saat rintik hujan turun deras mulai membasahi tanah diluar. Di balik celah-celah kaca Martha mulai menulis surat balasan

“Untuk Si D.

Aku membaca semua suratmu. Aku juga duduk di pojok itu. Ku harap kali ini kau tidak sekedar melihatku dari kejauhan. Mau kah kamu menyapaku? -M“

Ia menyelipkan surat itu pada buku novel yang sering dibaca Dana berjudul Hujan yang tampak lusuh.

Hari berikutnya Dana tak lagi terlihat di perpustakaan begitu pula esoknya. Martha tetap duduk di pojok seperti biasa.

-Jawaban yang Dinanti

Hari berikutnya Dana datang ke perpustakaan. Martha meliriknya pelan pura-pura membaca buku yang dipegangnya. Dana duduk dua bangku darinya. Beberapa menit hening, tiba-tiba suara Dana terdengar:

“Martha…”

Martha menoleh. Jantungnya berdegup kencang.

“Surat-surat itu, memang aku yang tulis” katanya lirih.

“Aku menulisnya dari semester lalu, tapi aku takut menyampaikannya kamu terlalu tinggi bagiku” martha mengerutkan kening 

“Kenapa tidak bicara langsung?”

Dana menunduk “Aku takut. Tapi aku ingin kamu tau perasaanku. Meskipun kamu tidak membalasnya aku tetap menulis.”

Martha tersenyum kecil “Tapi aku membalas.”

Dana mengangkat wajahnya, matanya membulat

“Kamu?..”

“Novel Tere Liye tidak kamu baca sampai habis?” tanya Martha.

Dana tersenyum kecil “Aku takut membaca balasanmu.” jawab Dana.

-Surat Baru Awalan Baru

Sejak hari itu, Martha dan Dana sering duduk bersama di perpustakaan. Tak banyak bicara tapi ada kehangatan yang tak bisa dijelaskan. Sesekali mereka bertukar buku, sesekali mereka bertukar pandang. Mereka tak pernah menyebut kata “Pacaran”, tak pernah juga mengumbar kebersamaan. Tapi semuanya tahu kalau mereka saling menanti tiap sore untuk membaca buku bersama.

Suatu hari Dana membuka buku favoritnya dan menemukan selembar kertas baru:

“Untuk Si D yang dulu bersembunyi 

Kamu tidak perlu menjadi penyair untuk menyampaikan perasaanmu. Kamu tidak perlu juga membohongi perasaanmu. Tak perlu takut. Kamu hanya perlu jujur saja. Terimakasih, aku sudah menerima perasaanmu. Tapi, Maaf aku tak bisa memaksakan perasaanku. Sebagai teman aku akan tetap mendukungmu. Semoga kamu mengerti perasaanku juga”

Dana terdiam dan sedikit terkejut, tapi ia juga menyadari bahwa apapun jawaban dari Martha tak akan mengubah perasaannya, dia akan tetap bersyukur. Sama seperti hari- hari lalu. Bagi Dana “apapun itu perasaan cinta adalah sesuatu hal yang sakral, tak ada yang bisa menghentikannya meskipun penolakan yang ada”.

 

 


 



Share: