Sunday, January 4, 2026

Luka yang Tidak Pergi

‎Aku selalu berfikir luka yang kita alami pasti akan sembuh sendiri dan akan pergi sendiri. Bahkan aku selalu yakin suatu hari ia akan menghilang seiring berjalannya waktu. Tetapi, nyatanya tidak.

Luka tidak pergi, kalaupun pergi bukan karena waktu. tapi ia pergi karena kita berhenti memeliharanya.

Ada luka yang tidak lagi terasa sakit tapi tetap tinggal. Ia tinggal bukan sebagai perih melainkan sebagai sikap. ‎Nada bicara yang berubah-ubah,
‎kecurigaan kecil yang muncul tanpa alasan jelas, rasa ketidakpercayaan pada hal yang sebenarnya aman.

‎Aku sadar luka itu tidak pergi karena aku terus membawanya kemana-mana. Aku mengingatnya bukan untuk memahami, tapi untuk memastikan aku tidak lupa siapa yang bersalah. Aku mengulangnya bukan karena belum sembuh, tapi karena aku takut jika sembuh, aku kehilangan alasan untuk marah.

Dan sejak kapan, luka itu menjadi identitas. Aku adalah orang yang pernah disakiti. Aku adalah orang yang pantas dimengerti. Aku adalah orang yang tidak seharusnya diminta mengalah. Aku adalah orang yang tidak seharusnya gagal. Aku adalah orang yang harus mendapatkan apa yang ku ingingkan. Dari situlah luka berhenti menjadi pengalaman, dan berubah menjadi rumah.

Ada bagian dari diriku yang merasa aman dengan luka itu. Karena selama ia ada, aku tidak perlu benar-benar membuka diri. Selama ia ada, aku punya alasan untuk menjaga jarak. Selama ia ada, aku bisa berkata dalam hati: “Wajar aku seperti ini.”

Padahal mungkin luka itu sudah lama sembuh, dan yang belum selesai hanyalah keinginanku untuk tetap benar.
‎Aku sering bilang pada diri sendiri bahwa aku belum sembuh karena orang lain belum meminta maaf.
‎Karena keadaan belum adil.
‎Karena ceritanya belum lengkap.
‎Padahal kalau jujur, yang belum selesai adalah keberanianku untuk melepaskan egoku.

‎Aku sadar luka ini tidak pergi bukan karena ia kuat, Ia bertahan karena aku terus memberinya tempat. Dan pelan-pelan aku mengerti satu hal yang tidak nyaman: selama aku masih menggenggam luka itu, aku tidak sedang bertahan aku sedang menunda damai.

Mungkin menyembuhkan luka bukan soal menghapus apa yang terjadi. Mungkin ia tentang berhenti menjadikannya pusat hidup. Membiarkannya menjadi bagian dari cerita, bukan judulnya. Karena tidak semua yang tinggal ingin disembuhkan. Sebagian hanya ingin dilepaskan.
Share:

0 comments:

Post a Comment