Monday, January 5, 2026

Mengulang Marah sebagai Pembenaran

‎Setelah luka itu tak kunjung pergi, aku belajar satu hal yang lebih sulit: marah, aku kembali marah.
‎Bukan karena ada hal baru yang menyakitkan, tapi karena ada sesuatu dalam hatiku yang membiarkanya tumbuh.

Aku mengulang peristiwa yang sama di kepalaku, seolah jika ku ingat lagi aku menemukan alasan yang kuat untuk tetap bertahan pada perasaan yang sama. ‎Aku mengulang marah itu untuk menyembunyikan rasa takut bukan ketakutan untuk kehilangan, tapi ketakutan untuk melepaskan.

Marah yang ku rasa tak lagi keras. Ia terasa tenang bahkan bisa dibilang sopan. Tanpa suara, duduk disudut pikiranku, dan mengingatkanku pada hal-hal yang sudah lama berlalu tapi belum kulepaskan. Aku membiarkannya ada, karena selama ia ada, aku tidak perlu benar-benar jujur pada diriku sendiri.

Selama aku marah, aku tidak harus menurunkan ego. Tidak harus mengakui bahwa mungkin sebagian luka ini bertahan karena aku memeliharanya. Marah menjadi pembenaran yang rapi tanpa perlu teriak, tanpa perlu pembelaan.

Aku mulai menyadari yang paling kutakutkan bukan luka itu sendiri, tapi  jika aku berhenti marah, aku harus hidup tanpa cerita tentang siapa yang salah dan siapa yang benar.
‎Aku pernah berpikir marah membuatku kuat. Sekarang aku tahu, ia hanya membuatku bertahan tanpa benar-benar hidup.

Setiap kali aku mengulangnya, damai terasa semakin jauh. Bukan karena damai tidak mau datang, tapi karena aku tidak memberi tempat. Hatiku sudah penuh oleh pembenaran.
‎Mungkin pada akhirnya, marah bukan sesuatu yang harus dilawan. Ia hanya harus tidak lagi dipelihara.

‎Dan ketika aku mulai membiarkannya diam sunyi yang tersisa terasa asing, ‎tapi untuk pertama kalinya, tidak menyakitkan.
Share:

0 comments:

Post a Comment