Aku sering bilang pada diriku sendiri, aku hanya mengingat. Ternyata yang ku lakukan sebenarnya adalah menghidupkan ulang.
Aku memanggil lagi kenangan itu pelan-pelan. Tidak semua, hanya yang terasa paling akrab dengan luka.
Aku mengingatnya di kepalaku, memberinya wajah, nada suara, dan perasaan yang sama seperti dulu. Seolah jika kuingat cukup sering, ia akan tetap tinggal dan tidak benar-benar pergi.
Aku tidak tahu kapan tepatnya kenangan itu berhenti menjadi masa lalu.
Yang aku tahu, ia mulai ikut hidup bersamaku hari ini.
Tanpa kusadari, aku membawanya ke mana-mana.
Saat sendiri, saat lelah, saat merasa sulit memahami diriku sendiri.
Kenangan itu selalu muncul, dan anehnya, aku merasa betah berada di sana. Seolah mengingatnya memberi rasa yang lebih akrab daripada menjalani hari ini.
Dalam kenangan, aku tidak perlu menebak-nebak.
Aku tahu di mana aku terluka.
Aku tahu mengapa aku kecewa.
Aku tahu mengapa aku pantas merasa seperti ini.
Berbeda dengan sekarang. Hidup hari ini terlalu sunyi, terlalu terbuka. Tidak ada penjelasan yang rapi, tidak ada siapa yang bisa benar-benar kusalahkan. Hanya aku dan perasaan yang harus kuurus sendiri.
Mungkin itu sebabnya aku sering kembali. Bukan karena kenangan itu indah, tapi karena ia memberi batas yang jelas. Ia memberiku alasan yang tidak perlu dijelaskan, rasa yang tidak perlu dibenarkan.
Aku mulai menyadari, kenangan bukan sekadar ingatan. Ia adalah tempat singgah. Tempat aku berhenti sejenak dari tuntutan untuk mengerti segalanya.
Aku tidak memelihara kenangan itu karena aku ingin tersakiti.
Aku memeliharanya karena aku belum siap melepaskan penjelasan tentang diriku sendiri. Selama kenangan itu hidup, aku masih tahu siapa aku dan mengapa aku seperti ini.
Namun semakin sering kuhidupkan, semakin ia mengambil ruang.
Hari ini terasa mengecil, masa lalu terasa lebih nyata.
Dan tanpa kusadari, aku lebih sering hidup di sana daripada di sini. Aku belum tahu bagaimana caranya berhenti. Tapi kini aku mengerti satu hal:
"kenangan itu tidak menahanku, akulah yang terus memanggilnya untuk tinggal.
Mungkin suatu hari nanti aku akan membiarkannya diam. Bukan karena aku lupa, tapi karena aku akhirnya berani hidup tanpa menjadikannya sandaran."
0 comments:
Post a Comment