Sunday, January 18, 2026

Sunyi yang Tidak Tercatat

Dwi, datang paling pagi tapi namanya jarang disebut. Di absensi pegawai sekolah, daftar guru dan pegawai tetap dicetak tebal. Namanya ada di bawah, huruf lebih kecil, di bagian tenaga honorer seolah hanya catatan kaki yang bisa dihapus kapan saja.

Ia membuka perpustakaan saat embun masih menempel di kaca jendela. Bau buku lama menyambutnya, seperti bau sajadah di masjid kampungnya. Rak-rak ia rapikan pelan-pelan. Ia terbiasa bekerja tanpa suara, tanpa saksi.

“kalem-kalem ae,” gumamnya.

Sebagai honorer, Dwi belajar satu hal sejak awal: jangan banyak menuntut, jangan banyak bicara, dan jangan terlihat bermasalah.

Siang hari itu seorang guru masuk dengan wajah tegang.

“Pak Dwi, buku referensi Bahasa Inggris ilang,” kata guru itu.

Dwi berdiri cepat.
“Inggih bu, kulo cek riyen. Niki buku nopo?” tanya Dwi.

“Yang kemarin saya pakai. Harusnya ada di sini.”

Dwi mencari di rak, membuka buku peminjaman, memeriksa catatan. Bukunya tidak ada. Dadanya menghangat oleh perasaan yang sudah sering datang belakangan ini.

“Mboten wonten catetanipun, Bu,” ucapnya hati-hati.

“Kinten-kinten dipun pinjam tanpa ngisi.”
Guru itu menghela napas panjang.

“Lho terus gimana, Pak? Ini kan tanggung jawab perpustakaan.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi tepat. Dwi mengangguk. Selalu begitu. Jika buku hilang, ia lalai. Jika siswa ribut, ia tak tegas. Jika administrasi kacau, ia yang kurang teliti.
Sore itu, namanya kembali dipanggil ke ruang kepala sekolah.

Ruang itu dingin oleh pendingin udara dan sunyi oleh formalitas. Kepala sekolah membaca selembar kertas tanpa menatap wajah Dwi.

“Pak Dwi, ini sudah beberapa kali,” katanya akhirnya.
“Masalahnya kecil-kecil, tapi sering.”

Dwi berdiri dengan tangan terlipat di depan perut. Posisi yang sama seperti saat ia menghadap pengurus masjid jika ada laporan pengeras suara mati.

“Nggih, Pak. Kulo nyuwun pangapunten,” katanya lirih.

“Bukan soal minta maaf,” lanjut kepala sekolah.
“Ini soal tanggung jawab.”

Di sudut ruangan, beberapa guru duduk. Tidak ada yang berbicara. Ada yang sibuk membuka ponsel, ada yang pura-pura membaca berkas. Tak satu pun menoleh lama ke arahnya.
Surat teguran disodorkan. Dwi membacanya sebentar, lalu menandatangani. Tangannya sedikit gemetar.

“Saya harap ini yang terakhir,” kata kepala sekolah.

“Iya, Pak,” jawab Dwi. Selalu itu jawabannya.

Malam hari, Dwi berada di masjid. Ia menyapu lantai dengan gerakan teratur. Satu saf, dua saf, hingga selesai. Masjid kosong. Lampu putih menggantung tanpa suara.
Ia duduk di saf paling belakang, menatap sajadah yang mulai berbulu. Di sini, ia tak pernah ditegur. Tak pernah dituduh. Tapi juga tak pernah benar-benar didengar.

“Gusti,” bisiknya.
“Menopo sabar niki tansah dados dalan sing bener?"

Ia terdiam. Tak ada jawaban. Hanya dengung kipas angin dan suara langkah jamaah terakhir yang pulang.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Dwi tetap datang pagi. Tetap menyusun buku. Tetap tersenyum saat disapa setengah hati.
Suatu siang, dua siswa berlari di dalam perpustakaan. Salah satu rak terguncang. Buku jatuh berserakan.

“Le, ojo mlayu,” kata Dwi lembut.

Salah satu siswa menoleh sekilas.
“Iya, Pak,” jawabnya asal, lalu pergi.

Sore harinya, laporan kembali masuk. Rak berantakan. Buku rusak. Nama Dwi kembali disebut.
Teguran ketiga datang tidak lama setelah itu. Isinya lebih tegas. Nada ancamannya tidak disembunyikan.

Malam itu, Dwi pulang lebih awal dari biasanya. Seragamnya digantung rapi. Ia duduk di tepi ranjang, menatap dinding kosong.
Ia teringat perkataan seorang temannya dulu.

“Dwi, wong apik kuwi kerep dadi korban. Dudu merga salah, tapi merga meneng.”

Waktu itu ia tertawa. Sekarang kalimat itu tinggal dan berputar-putar di kepalanya.

Subuh datang. Dwi membuka masjid seperti biasa. Menata sandal. Menyalakan lampu. Menyapu halaman.
Setelah azan, ia duduk di beranda masjid.
Matahari pelan-pelan naik. Jalan di depan mulai ramai oleh orang-orang yang tahu ke mana mereka akan pergi.
Untuk pertama kalinya, Dwi tidak langsung berangkat ke sekolah.

Ia duduk saja. Diam. Tangannya di atas lutut. Dadanya terasa penuh, tapi bukan oleh marah—lebih seperti lelah yang sudah terlalu lama ditahan.

“Yen meneng terus,” gumamnya pelan,
“opo aku isih ana?”

Ia tidak menjawab pertanyaan itu. Tidak hari ini.
Masjid tetap berdiri. Perpustakaan akan tetap buka, dengan atau tanpa dirinya. Dunia berjalan seperti biasa.
Dwi menarik napas panjang.

Cerita ini tidak berakhir dengan keberanian besar. Tidak ada teriakan. Tidak ada pembelaan.
Hanya seorang lelaki baik yang akhirnya menyadari:
kesabaran yang tak pernah didengar bisa berubah menjadi cara paling halus untuk menghilangkan diri sendiri.
Pagi itu, ia masih duduk di sana, memilih atau menunda memilih untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Share:

0 comments:

Post a Comment