Thursday, January 29, 2026

Sopan Santun

‎Pemberontakan terhadap keadilan dilarang keras, di kantor. Maka kami melakukannya dengan sopan.
‎Kami datang mengisi absen bekerja sesuai jobdesk tidak kurang dan tidak lebih. Karena disini kelebihan dianggap salah.
‎Kami menjawab "siap" di grub WhatsApp. Lalu melanjutkan pekerjaan tanpa bertanya mengapa.
‎Bukan karena paham,
‎tapi karena bertanya sering dianggap sikap tidak loyal.
‎Atasan kami menyukai kata keluarga. Katanya, kantor ini rumah kedua. Sayangnya, di rumah ini kami tak boleh berbeda pendapat, tak boleh lelah, dan tak boleh sakit kecuali dengan surat dokter.
‎Kami punya banyak ide.
‎Sebagian besar disimpan rapi di kepala, seperti arsip lama yang tak pernah dibuka lagi. 
‎Pengalaman mengajarkan satu hal penting:
‎"ide tanpa jabatan hanyalah opini,
‎dan opini bisa mengganggu stabilitas."
‎Maka kami memilih aman. Kami bekerja cukup, tidak menonjol, tidak mengeluh, tidak berharap. Karena berharap terlalu tinggi hanya akan membuat kecewa yang lebih mahal.
‎Jika suatu hari produktivitas menurun, mereka akan menyalahkan: "generasi sekarang malas", "kurang kerja keras", "tidak tahan banting".
‎Tidak pernah terpikir bahwa mungkin
‎yang habis bukan tenaga, melainkan rasa memiliki.
‎Beginilah bentuk pemberontakan kami:
‎tidak merusak, tidak berisik, tidak heroik.
‎Kami patuh.
‎Kami diam.
‎Kami tetap bekerja.
Share:

0 comments:

Post a Comment