Kami datang mengisi absen bekerja sesuai jobdesk tidak kurang dan tidak lebih. Karena disini kelebihan dianggap salah.
Kami menjawab "siap" di grub WhatsApp. Lalu melanjutkan pekerjaan tanpa bertanya mengapa.
Bukan karena paham,
tapi karena bertanya sering dianggap sikap tidak loyal.
Atasan kami menyukai kata keluarga. Katanya, kantor ini rumah kedua. Sayangnya, di rumah ini kami tak boleh berbeda pendapat, tak boleh lelah, dan tak boleh sakit kecuali dengan surat dokter.
Kami punya banyak ide.
Sebagian besar disimpan rapi di kepala, seperti arsip lama yang tak pernah dibuka lagi.
Pengalaman mengajarkan satu hal penting:
"ide tanpa jabatan hanyalah opini,
dan opini bisa mengganggu stabilitas."
Maka kami memilih aman. Kami bekerja cukup, tidak menonjol, tidak mengeluh, tidak berharap. Karena berharap terlalu tinggi hanya akan membuat kecewa yang lebih mahal.
Jika suatu hari produktivitas menurun, mereka akan menyalahkan: "generasi sekarang malas", "kurang kerja keras", "tidak tahan banting".
Tidak pernah terpikir bahwa mungkin
yang habis bukan tenaga, melainkan rasa memiliki.
Beginilah bentuk pemberontakan kami:
tidak merusak, tidak berisik, tidak heroik.
Kami patuh.
Kami diam.
Kami tetap bekerja.
0 comments:
Post a Comment