Saturday, January 3, 2026

Karena luka tak akan pernah selesai kalau kita tak bisa menahan ego

Kadang yang membuat luka kita bertahan bukan karena peristiwa menyakitkan masih terjadi, tapi karena kita terus membiarkannya hidup dalam hati dan pikiran kita. Kita ulang marahnya, kecewanya, perih-perihnya seakan-akan dengan itu kita merasa benar. Padahal sering kali yang memperpanjang rasa sakit bukan orang lain tapi ego kita sendiri.

Sering kali kita ingin membuktikan seakan-akan kita adalah orang yang paling tersakiti. Menuntut pengakuan, pembelaan orang lain, atau bahkan balas dendam. Kita lupa semakin kita bicara semakin dalam luka yang menganga. Kita tak bisa benar-benar jujur dan mengakui bahwa "persepsi kita salah" dan tak bisa benar-benar sembuh, karena kita terlalu sibuk menunjuk siapa yang salah daripada merawat diri kita.

Luka tak akan pernah selesai selama kita belum mampu menurunkan ego. Untuk menyembuhkan luka yang kita perlukan bukan pembenaran tapi penerimaan, bukan balasan tapi keikhlasan. Menahan berarti kalah itu adalah cara paling bijak untuk memberi ruang pada hati agar pulih, bagi jiwa agar tenang.

Karena pada akhirnya, damai bukan datang dari kemenangan atas orang lain tapi dari keberanian berdamai atas diri sendiri.

Share:

0 comments:

Post a Comment