Saturday, January 3, 2026

Surat Perpustakaan

- Dunia Martha

Cahaya langit sore menyusup jendela perpustakaan MAN Kota Blitar, membias diantara rak-rak kayu tua yang penuh buku. Di pojok ruangan duduk seorang siswi dengan jilbab putih dengan wajah tenang menunduk membaca halaman novel yang sudah menguning. Martha. Siswi itu bernama Martha seorang yang lebih suka menghabiskan harinya duduk menyendiri membaca buku sambil menunggu jemputan pulang sekolah. Tak ada yang tahu berapa lama Martha bisa betah di perpustakaan. Ia bisa duduk berjam-jam di sana, hanya ditemani suara detik jam dinding dan aroma khas buku tua. Di perpustakaan Ia merasa aman, jauh dari hiruk pikuk kelas, tekanan nilai, dan dari percakapan basa-basi yang membuatnya asing. Hari itu ia memilih buku yang lama tak disentuh berjudul:

“Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Darmono”.

Terselip sebuah kertas lipat berwarna hijau pada sela-sela buku. Saat membuka buku itu terdapat sebuah kutipan

“aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu - 1989”.

Lalu ia membaca tulisan pada kertas itu ditulis rapi bertinta biru bertandatangan:

“Kau yang selalu duduk di pojok ruangan ini. Aku tidak pernah berani menyapamu. Tapi, aku selalu menunggumu membuka halaman demi halaman seolah aku ikut membaca bersamamu.”

Martha menahan nafas. Surat Anonim, hanya ditandai dengan satu huruf dipojok bawah: “D”

Ia menatap sekeliling, tak ada orang sama sekali. Dalam hati dia berkata “Siapa yang menulis surat ini?, Untuk siapa? Untukku kah?, Apakah ini surat cinta?....”

-Surat Misterius

Sepulang sekolah Ia tak berhenti memikirkan surat itu. Ia membawanya pulang disimpannya dalam halaman bindernya. Menurutnya, ada yang berbeda dari surat itu selain kata-katanya yang indah, ada kejujuran yang jarang ia temui dalam hari-harinya. Besoknya, Ia kembali ke perpustakaan untuk mengambil buku yang sama dengan maksud mencari apakah ada surat yang lain. Tapi ia tak menemukan surat apapun. Martha mulai penasaran dan memeriksa buku absen tamu perpustakaan. Ada beberapa nama, tapi ada satu nama yang mencolok yaitu: “Dana Adyaksa”.

Dana, Siswa samping kelasnya. Berkacamata biasa menyendiri dan pendiam, nyaris tak pernah bicara kecuali jika ditanya. Ia sering terlihat membawa buku, dan beberapa kali ia sering terlihat di perpustakaan duduk diam, seperti sedang menunggu sesuatu.

Ia tak berani langsung bertanya. Tapi sejak saat itu, ia mulai memperhatikan Dana. Dan Dana sesekali juga mulai bersenyum sapa walau terlihat ia sedikit malu. Walau singkat, senyum, anggukan kepala. Bahkan satu kali Dana pernah bertanya 

“Buku Sapardi bagus ya?...” Ia hanya bisa membalas dengan anggukan.

Dalam hati berkata “kok Dana tau aku buku sapardi itu?”

ia juga bertanya-tanya: Apakah dia tahu aku surat yang menyelip di buku itu?

Atau Dana yang jangan-jangan menyelipkan buku itu?

-Rasa Penasaran dan Surat Kedua

Beberapa hari kemudian, Martha menemukan surat kedua. Kali ini terselip pada buku paket pelajaran matematika yang tampak tak menarik perhatian. surat itu bertuliskan

“Aku menunggumu hari ini, kamu tidak datang. Aku tetap menatap bangku itu, barangkali rinduku bisa tertinggal di sana.”

Martha heran menggigit bibirnya. Surat ini jelas ditulis oleh orang yang sama seperti surat pertama yang diperolehnya kemarin lengkap dengan tandatangan dan inisial D. Surat ini jelas ditulis oleh orang yang sedang menunggu, menyimpan perasaan. Tapi tak berani mengungkapkan.

“Apakah Dana yang menulis?” kata Martha dalam hati.

Martha mencari surat lain barangkali ada. Ia membaca setiap buku yang pernah dipinjam atas nama Dana. Dan benar dua surat lain ia temukan dalam minggu yang sama. Semuanya memakai gaya bahasa yang serupa. Puitis, hangat, sederhana, dan semuanya ada tandatangan dengan inisial D.

Martha mulai yakin bahwa Dana yang menulisnya.

Tapi mengapa ia hanya tak pernah menyapa lebih dari sekedar “Buku itu bagus?...”,

dan mengapa memilih untuk tetap menyembunyikan perasaan dibalik tulisan-tulisan anonim?

-Perasaan yang Mengendap

Martha mulai mengalami perubahan dalam dirinya. Tak hanya membaca buku sekarang ia lebih sering membaca gerak-gerik Dana. Setiap kali Dana masuk ke perpustakaan pandangannya akan tertuju padanya dan jantungnya akan berdetak lebih cepat. Tapi ia menyadari bahwa Dana tak mungkin berani mendekatinya dan tak pernah berani duduk disampingnya.

Suatu sore, saat rintik hujan turun deras mulai membasahi tanah diluar. Di balik celah-celah kaca Martha mulai menulis surat balasan

“Untuk Si D.

Aku membaca semua suratmu. Aku juga duduk di pojok itu. Ku harap kali ini kau tidak sekedar melihatku dari kejauhan. Mau kah kamu menyapaku? -M“

Ia menyelipkan surat itu pada buku novel yang sering dibaca Dana berjudul Hujan yang tampak lusuh.

Hari berikutnya Dana tak lagi terlihat di perpustakaan begitu pula esoknya. Martha tetap duduk di pojok seperti biasa.

-Jawaban yang Dinanti

Hari berikutnya Dana datang ke perpustakaan. Martha meliriknya pelan pura-pura membaca buku yang dipegangnya. Dana duduk dua bangku darinya. Beberapa menit hening, tiba-tiba suara Dana terdengar:

“Martha…”

Martha menoleh. Jantungnya berdegup kencang.

“Surat-surat itu, memang aku yang tulis” katanya lirih.

“Aku menulisnya dari semester lalu, tapi aku takut menyampaikannya kamu terlalu tinggi bagiku” martha mengerutkan kening 

“Kenapa tidak bicara langsung?”

Dana menunduk “Aku takut. Tapi aku ingin kamu tau perasaanku. Meskipun kamu tidak membalasnya aku tetap menulis.”

Martha tersenyum kecil “Tapi aku membalas.”

Dana mengangkat wajahnya, matanya membulat

“Kamu?..”

“Novel Tere Liye tidak kamu baca sampai habis?” tanya Martha.

Dana tersenyum kecil “Aku takut membaca balasanmu.” jawab Dana.

-Surat Baru Awalan Baru

Sejak hari itu, Martha dan Dana sering duduk bersama di perpustakaan. Tak banyak bicara tapi ada kehangatan yang tak bisa dijelaskan. Sesekali mereka bertukar buku, sesekali mereka bertukar pandang. Mereka tak pernah menyebut kata “Pacaran”, tak pernah juga mengumbar kebersamaan. Tapi semuanya tahu kalau mereka saling menanti tiap sore untuk membaca buku bersama.

Suatu hari Dana membuka buku favoritnya dan menemukan selembar kertas baru:

“Untuk Si D yang dulu bersembunyi 

Kamu tidak perlu menjadi penyair untuk menyampaikan perasaanmu. Kamu tidak perlu juga membohongi perasaanmu. Tak perlu takut. Kamu hanya perlu jujur saja. Terimakasih, aku sudah menerima perasaanmu. Tapi, Maaf aku tak bisa memaksakan perasaanku. Sebagai teman aku akan tetap mendukungmu. Semoga kamu mengerti perasaanku juga”

Dana terdiam dan sedikit terkejut, tapi ia juga menyadari bahwa apapun jawaban dari Martha tak akan mengubah perasaannya, dia akan tetap bersyukur. Sama seperti hari- hari lalu. Bagi Dana “apapun itu perasaan cinta adalah sesuatu hal yang sakral, tak ada yang bisa menghentikannya meskipun penolakan yang ada”.

 

 


 



Share:

1 comment: